Menu

Mode Gelap
Terima Audiensi Bupati Tana Toraja, Wamendes Ariza Minta Pemkab Sukseskan Program MBG

OPINI · 17 Sep 2025 WIB

Anak Muda, Perempuan, NU, Kader PKB di Posisi Wamenkop Mampukah Lakukan Percepatan Koperasi Merah Putih ?


					Anak Muda, Perempuan, NU, Kader PKB  di Posisi Wamenkop Mampukah Lakukan Percepatan Koperasi Merah Putih ? Perbesar

Ketika Presiden Prabowo Subianto mengumumkan perombakan kabinet pada 17 September 2025, perhatian publik segera tertuju pada satu nama baru: Farida Farichah. Lahir di Grobogan, Jawa Tengah, pada 20 Juli 1986, Farida kini berusia 39 tahun. Belum genap 40 tahun, ia dipercaya mengemban jabatan Wakil Menteri Koperasi.

Langkah ini bukan sekadar rotasi jabatan, melainkan keputusan strategis. Prabowo menunjukkan keberanian memberi ruang kepada generasi muda untuk masuk ke lingkar inti pengambil kebijakan. Dalam konteks koperasi — sebuah gerakan ekonomi rakyat yang sedang diproyeksikan menjadi tulang punggung ekonomi desa — kehadiran sosok muda menjadi sinyal bahwa transformasi koperasi tak lagi bisa dilakukan dengan cara lama.

 

Mesin Ganda: Stabilitas dan Energi Baru

Di saat bersamaan, Prabowo mengangkat Ferry Juliantono menjadi Menteri Koperasi. Ferry adalah politisi kawakan dengan pengalaman panjang di bidang ekonomi, organisasi, dan politik. Dengan kombinasi ini, Prabowo membentuk semacam mesin ganda:

  • Ferry adalah mesin besar yang menjaga arah, memberi stabilitas, dan memastikan kebijakan koperasi terhubung dengan strategi makro ekonomi nasional.
  • Farida adalah mesin ringan yang lincah, cepat, dan fleksibel. Dengan jaringan perempuan muda NU dan PKB, ia mampu menembus lapisan akar rumput, menggerakkan partisipasi, serta menghadirkan wajah koperasi yang segar di mata publik.

Kombinasi ini ibarat dua tenaga yang saling melengkapi: satu kokoh, satu gesit. Bersama-sama, keduanya diproyeksikan mempercepat lahirnya 80.000 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih yang sedang digulirkan pemerintah.

Generasi Muda Menjawab Tantangan Zaman

Di usia 39 tahun, Farida membawa tiga ciri khas anak muda yang sangat relevan dengan kebutuhan koperasi hari ini:

  1. Berani Berinovasi
    Farida datang dengan pengalaman organisasi yang berlapis, mulai dari IPPNU, Fatayat NU, hingga struktur PKB. Aktivisme itu melatihnya untuk selalu mencari cara baru dalam menghadapi tantangan. Koperasi yang selama ini dianggap kuno bisa ia dorong masuk ke ranah digitalisasi, e-commerce, hingga kolaborasi dengan startup.
  2. Dekat dengan Milenial dan Gen Z
    Sebagai representasi generasi 1980-an, Farida berada di tengah-tengah jembatan: cukup muda untuk dekat dengan milenial dan Gen Z, namun cukup matang untuk memahami pola pikir generasi sebelumnya. Inilah modal penting agar koperasi tidak hanya diminati orang tua, tetapi juga jadi pilihan generasi muda.
  3. Simbol Keberanian Politik
    Prabowo menunjukkan bahwa ia tidak sekadar merangkul senioritas. Ia berani memberikan panggung bagi sosok yang relatif muda dan belum terlalu lama berada di pusaran kekuasaan pusat. Keputusan ini bisa memicu kepercayaan diri anak muda lain untuk masuk ke ruang publik dan ikut terlibat dalam pembangunan.

Perempuan di Garda Terdepan

Selain muda, Farida juga membawa identitas sebagai perempuan. Latar belakangnya di Fatayat NU dan IPPNU menjadikannya cerminan jutaan perempuan desa yang selama ini menopang ekonomi keluarga.

Perempuan dalam konteks koperasi bukanlah sekadar anggota. Mereka adalah pelaku utama:

  • Ibu-ibu yang mengelola arisan dan simpan pinjam.
  • Petani perempuan yang ikut dalam kelompok tani.
  • Pelaku UMKM yang mengandalkan koperasi untuk akses modal.

Dengan kehadiran Farida di kursi Wamenkop, pemerintah memberi sinyal bahwa koperasi perempuan akan mendapat panggung yang lebih besar. Bisa jadi dalam beberapa tahun ke depan, kita akan melihat program afirmatif khusus untuk koperasi pangan perempuan, koperasi UMKM berbasis komunitas, hingga koperasi pesantren yang melibatkan santri putri.

Koperasi Merah Putih: Mesin Ekonomi Rakyat

Target pemerintah menghadirkan 80.000 Koperasi Merah Putih adalah proyek besar yang ambisius. Koperasi ini diharapkan bukan hanya papan nama, melainkan benar-benar menjadi infrastruktur ekonomi rakyat: mengatur distribusi barang pokok, mengelola rantai pasok, menyediakan modal bergulir, bahkan masuk ke sektor energi dan digital.

Di sinilah peran Farida akan diuji. Dengan modal jaringan sosial yang luas, ia bisa menjembatani program nasional dengan realitas lokal. Bukan perkara mudah, karena koperasi sering kali tersendat oleh tiga masalah klasik: modal yang terbatas, manajemen yang lemah, dan kepercayaan anggota yang belum kokoh.

Namun justru karena tantangan itu, dibutuhkan figur dengan energi baru yang mau turun ke bawah, mendengar, dan menggerakkan.

Politik yang Menyatu dengan Ekonomi Rakyat

Dalam kaca mata politik, penunjukan Farida juga cerdas. Ia adalah kader PKB, partai yang menjadi mitra penting dalam koalisi pemerintahan. Dengan menempatkan sosok muda NU di kursi Wamenkop, Prabowo sekaligus:

  1. Merawat hubungan strategis dengan PKB.
  2. Menghadirkan wajah santri dan perempuan di pemerintahan.
  3. Menguatkan basis dukungan di Jawa Tengah dan Jawa Timur, wilayah dengan populasi NU yang besar.

Tapi di luar hitungan politik, ada pesan yang lebih besar: koperasi bukan hanya urusan teknis ekonomi, melainkan juga alat konsolidasi sosial dan politik rakyat.

Tantangan Nyata di Depan Mata

Meski terlihat menjanjikan, Farida akan menghadapi sejumlah tantangan besar:

  1. Bagaimana memastikan 80.000 koperasi tidak hanya berdiri di atas kertas, tetapi benar-benar hidup dan aktif?
  2. Bagaimana menyiapkan SDM pengurus koperasi yang profesional, bukan sekadar pengisi jabatan?
  3. Bagaimana membangun kepercayaan masyarakat bahwa koperasi hari ini berbeda dengan koperasi yang pernah gagal di masa lalu?
  4. Bagaimana menyeimbangkan kepentingan politik dengan kebutuhan teknokratis penguatan koperasi?

Semua itu membutuhkan strategi, konsistensi, dan tentu saja dukungan penuh dari Presiden serta menteri terkait.

Harapan Baru dari Keputusan Visioner

Dengan menempatkan Farida Farichah  anak muda berusia 39 tahun di kursi Wamenkop, Prabowo Subianto telah mengambil keputusan yang sangat strategis. Ia menyuntikkan energi baru ke dalam tubuh gerakan koperasi, sekaligus memastikan bahwa estafet kepemimpinan ekonomi rakyat tidak berhenti di generasi lama.

Jika energi muda ini berhasil dikelola menjadi gerakan nyata di desa-desa, maka keputusan ini akan tercatat sebagai langkah visioner. Koperasi Merah Putih tidak hanya menjadi proyek birokrasi, melainkan rumah kemandirian ekonomi bangsa yang dijalankan dengan semangat gotong royong, partisipasi perempuan, dan kreativitas anak muda.

Koperasi sebagai Ruang Masa Depan

Kehadiran Farida Farichah sebagai Wamenkop menegaskan satu hal: masa depan koperasi ada di tangan generasi muda dan perempuan.

Keputusan Prabowo bukan sekadar reshuffle, melainkan strategi besar. Di tengah persaingan global, Indonesia butuh sistem ekonomi rakyat yang tangguh. Koperasi Merah Putih adalah jawabannya. Dan untuk menjadikan koperasi itu hidup, dibutuhkan wajah baru yang segar, berani, dan dekat dengan masyarakat.

Farida semoga menjadi  simbol dari wajah baru. Dan sejarah akan mencatat, bahwa di usia belum genap 40 tahun, ia dipercaya menjadi motor penggerak ekonomi rakyat Indonesia.

Artikel ini telah dibaca 180 kali

Baca Lainnya

Koperasi Sekunder Merah Putih Menjawab Kegaduhan Koperasi Desa  dan Dana Desa

26 Desember 2025 - 07:36 WIB

Asta Cita Dipahami Presiden, Dirusak Para Pembantunya, Desa Jadi Korban Salah Tafsir Kebijakan

22 Desember 2025 - 21:38 WIB

ilustrasi

Inpres Koperasi Desa Merah Putih: Ujian Negara Apakah Menghormati Desa ?

13 Desember 2025 - 16:05 WIB

Kementerian Koperasi Salah Tafsir Arahan Presiden: Dari Visi ke Kewajiban Anggota

23 November 2025 - 08:15 WIB

Inpres Datang, Inpres Pergi: Pengurus KDMP Masih Bingung Melangkah

23 November 2025 - 00:26 WIB

Membangun Jaringan Pangan yang Lebih Kuat: Saatnya BUMN dan KDMP Bersinergi

22 November 2025 - 07:31 WIB

Trending di OPINI