Menu

Mode Gelap
Terima Audiensi Bupati Tana Toraja, Wamendes Ariza Minta Pemkab Sukseskan Program MBG

CERPEN · 8 Jun 2025 WIB

Debat di Bawah Pohon Waru


					Debat di Bawah Pohon Waru Perbesar

 

Kabut Pagi dan Dua Sosok yang Berbeda

Kabut masih menggantung rendah ketika ayam jantan berkokok bersahutan dari ujung dusun. Udara pagi membawa aroma basah tanah dan daun waru yang menguning. Di bawah pohon waru besar—tempat orang-orang tua biasa ngeteh dan berbincang—dua sosok telah duduk bersisian namun tampak canggung: Pak Raji, mantan Kepala Desa yang kini menjadi sesepuh kampung, dan Mas Leman, pemuda kampung lulusan perguruan tinggi dari kota.

Pak Raji menyeduh kopi hitam yang ia bawa dalam termos kecil. “Enak kopi ini. Bukan macam ide-ide koperasi yang kamu bawa dari kota itu. Pahitnya nyata.”

Mas Leman menoleh. Senyumnya menipis. “Kopi bisa pahit, Pak. Tapi koperasi? Itu bisa jadi jalan keluar dari kemiskinan kalau dikelola serius.”

 Pertama, Mereka Bertukar Argumen

“Mas, jangan samakan desa ini dengan kampusmu dulu. Orang sini itu cari yang sederhana. Ndak usah dibikin ribet pakai rapat-rapat, RAT, AD/ART,” sergah Pak Raji sambil menunjuk dengan jari yang gemetar oleh usia.

Mas Leman menarik napas panjang. “Justru karena itu, Pak. Desa ini terlalu lama didikte orang luar. Koperasi itu bukan ribet. Itu demokrasi ekonomi. Semua anggota punya suara. Bukan cuma Direktur BUMDes yang pegang kendali.”

“Kamu pikir BUMDes itu jelek? Lha wong yang bangun jalan itu, siapa? Yang beliin traktor petani itu dari mana uangnya?” suara Pak Raji meninggi.

“Saya tidak bilang BUMDes jelek. Tapi BUMDes bukan segalanya. Koperasi bisa hidup berdampingan. Yang satu badan usaha milik desa, yang satu milik anggota. Berbeda.”

Pak Raji tertawa pendek. “Berbeda katanya. Lha ujung-ujungnya rebutan pasar juga. Toko sembako di BUMDes kamu mau saingi pakai koperasi juga? Malah bikin perang dingin antar warga nanti!”

Api Meninggi: Hampir Bertengkar

Mas Leman berdiri, nada suaranya mulai meninggi, “Pak! Saya balik ke kampung ini bukan untuk cari ribut. Tapi kalau terus-menerus dicurigai, ya repot! Saya hanya ingin membangun bersama.”

Pak Raji pun berdiri. Sorot matanya tajam. “Kamu ini masih muda. Semangatmu besar, tapi belum paham medan. Saya ini makan asam garam kampung ini lebih lama dari umur kamu. Jangan sok ngajari!”

Suasana menegang. Beberapa warga yang melintas berhenti, melihat dari kejauhan. Pak Bejo yang membawa cangkul memperlambat langkah. Ibu Minah, penjual sarapan, mendekap bakulnya erat.

“Sudah-sudah, Pak… Mas…” gumam seseorang.

Tapi keduanya tak bergeming. Mata mereka saling menatap tegas. Pak Raji menunjuk dada Mas Leman, “Koperasi-koperasi itu bubar semua! Kamu tahu? Karena ndak ada yang jujur!”

Mas Leman menepis tangan Pak Raji. “Justru itu saya mau bangun yang benar! Dengan sistem! Dengan partisipasi! Bukan proyek semata!”

Pak Raji menunduk, wajahnya merah, “Ndak usah ngajari saya soal kejujuran. Saya tahu siapa yang kamu maksud!”

“Bukan soal siapa, Pak! Ini soal apa yang benar!” jawab Leman lantang.

Suara Ibu-Ibu, Tiba-Tiba Jadi Penengah

“Iki piye to, Pak Raji, Mas Leman? Mau bikin koperasi kok malah ribut!” teriak Bu Sumi, tokoh PKK desa yang baru datang dari arah balai dusun.

“Kalian pikir kami ibu-ibu ndak mau koperasi? Kami sudah kumpul uang arisan buat modal lho! Tapi ya itu, bingung, BUMDes ndak bisa transparan. Kami mau yang bisa kami awasi!” katanya lagi.

Pak Raji dan Mas Leman terdiam. Emosi mereka masih menggelegak, tapi ucapan Bu Sumi menampar ego mereka. Dari belakang, suara Pak Bejo ikut menyahut, “Saya ndak ngerti banyak soal sistem, tapi kalau ada yang bikin harga pupuk jadi lebih murah, saya ikut!”

Dinginnya Akal Sejukkan Kepala Panas

Pak Raji menghela napas panjang. Ia duduk kembali, kali ini dengan lebih tenang. “Maaf, Mas. Mungkin saya terlalu keras. Tapi saya tidak mau kampung ini dikorbankan karena semangat yang tergesa.”

Mas Leman ikut duduk. “Dan saya pun minta maaf, Pak. Saya terlalu membawa logika kota ke desa. Tapi saya percaya, kita bisa mulai dengan mendengar. Saya tidak ingin koperasi ini jadi milik saya. Saya ingin ini jadi milik warga.”

Pak Raji memutar cangkir kopinya. “Kita kumpulkan warga. Bikin musyawarah. Kalau memang warga mau, kita mulai dari nol. Tapi tanpa bantuan luar dulu. Modal dari anggota.”

“Setuju, Pak,” kata Leman, “Kita mulai dari anggota yang paham dan mau belajar. Kita latih akuntansinya, kita ajari RAT, kita damping sampai bisa berdiri sendiri.”

Koperasi dan Harapan yang Bertunas

Dua hari kemudian, di balai dusun yang sederhana, berkumpullah 32 warga. Ada petani, ibu rumah tangga, pengrajin, dan pemuda-pemudi. Mas Leman menjelaskan, Pak Raji membuka pertemuan. Dan Bu Sumi memimpin sesi tanya jawab.

“Nama koperasinya apa, Bu?” tanya salah satu pemuda.

“Koperasi Tunas Waru,” jawab Bu Sumi, sambil tersenyum. “Karena dari bawah pohon waru inilah, tunas harapan itu tumbuh.”

Semua tertawa. Bahkan Pak Raji pun akhirnya ikut tersenyum.

Di Bawah Waru, Lagi

Sore itu, sepekan setelah pendirian koperasi, Pak Raji dan Mas Leman kembali duduk di bawah pohon waru. Kali ini tak ada perdebatan. Hanya dua gelas teh dan selembar dokumen pendirian koperasi yang sedang dikoreksi bersama.

Pak Raji berkata lirih, “Mas, jangan berhenti kalau nanti mulai sepi. Yang kita tanam hari ini, baru panen beberapa tahun nanti.”

Mas Leman mengangguk. “Saya tidak akan berhenti, Pak. Karena saya sudah belajar: membangun koperasi bukan cuma membangun ekonomi. Tapi membangun kepercayaan.”

Angin sore bertiup lembut. Daun-daun waru berguguran perlahan. Di tengah desa kecil itu, harapan baru sedang tumbuh. Bukan dari wacana besar, tapi dari pertemuan dua kepala: satu beruban, satu berapi.

 

Artikel ini telah dibaca 44 kali

Baca Lainnya

Menyalakan Asa dari Tikar Yasinan: Cerita dari Belantara Gambut

18 Juni 2025 - 11:27 WIB

Dari Lumbung ke Layar Android

8 Juni 2025 - 16:45 WIB

KopDes Merah Putih: Dari Balai Desa ke Pusat Perubahan

30 Mei 2025 - 13:07 WIB

Obrolan Pakde dan Menulis Kisah Pendamping Desa

28 Mei 2025 - 20:34 WIB

Trending di CERPEN