Paparan Dr. Prayudi Samsuri (Staf Ahli Kemenko Pangan, Bidang Manajemen dan Konektivitas) pada Webinar: Potensi Desa dan Kelurahan dalam Pengembangan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih
Pendahuluan: Dari Tahap Pembentukan ke Tahap Operasional
Indonesia sedang melakukan langkah besar dalam pembangunan ekonomi desa melalui Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Setelah pada tahap pertama berhasil membentuk lebih dari 80 ribu koperasi berbadan hukum, kini tantangan berikutnya adalah bagaimana koperasi-koperasi itu benar-benar hidup, beroperasi, dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
Tahap kedua ini disebut sebagai etape operasionalisasi. Jika tahap pertama adalah tentang legalitas dan struktur, maka tahap kedua adalah tentang bisnis yang berjalan. Ukuran keberhasilan pun dibuat sederhana: koperasi dianggap operasional jika sudah memiliki akun resmi di SIM KOPDES dan menjalankan minimal satu unit usaha nyata.
Dengan tolok ukur ini, pemerintah ingin koperasi bergerak cepat, tidak berhenti pada papan nama, dan benar-benar menjadi pusat kegiatan ekonomi desa.
Prinsip Dasar Operasionalisasi
Menurut Dr. Prayudi, ada dua indikator sederhana untuk mengukur apakah koperasi sudah operasional:
- Registrasi di SIM KOPDES
Semua koperasi wajib memiliki akun di sistem digital ini. SIM KOPDES bukan sekadar database, tetapi instrumen akuntabilitas dan transparansi. Melalui sistem ini, data koperasi bisa diakses pusat, provinsi, hingga kabupaten, sehingga semua pihak dapat memantau perkembangan secara real time. - Minimal Satu Unit Usaha Berjalan
Tidak perlu langsung besar, koperasi cukup memulai dengan satu usaha yang bisa dijalankan sesuai kebutuhan anggota. Prinsipnya adalah bergerak dulu, jangan menunggu sempurna. Usaha sederhana pun bisa menjadi titik awal kebangkitan koperasi.
Dua Usaha Cepat: Beras dan Gas LPG
Lalu, usaha apa yang bisa dijalankan koperasi tanpa menunggu modal besar atau peralatan rumit? Dr. Prayudi menawarkan dua contoh yang sederhana tetapi strategis:
- Distribusi Beras SPHP
- Koperasi bisa menjadi agen penyalur beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dari Bulog.
- Perhitungan modal sangat terjangkau: hanya butuh sekitar Rp2,75 juta untuk memulai distribusi 250 kg beras (54 pak beras @5 kg).
- Mekanismenya jelas: koperasi membeli beras dari Bulog dengan harga Rp11 ribu/kg, lalu menjual ke anggota dengan margin Rp2.500.
- Dengan cara ini, koperasi bisa langsung bergerak, sekaligus membantu menjaga stabilitas pangan di desa.
- Penjualan LPG 3 Kg
- Koperasi bisa menjadi agen LPG subsidi.
- Tidak perlu langsung menampung 200 tabung. Cukup mulai dengan 15 tabung.
- Modal awal sekitar Rp3 juta (sudah termasuk tabung dan isi).
- Lokasi penyimpanan pun tidak perlu gudang besar, cukup ruangan sederhana di koperasi atau gerai kecil di desa.
Dua contoh ini menegaskan bahwa koperasi tidak harus menunggu modal miliaran rupiah untuk mulai jalan. Dengan modal belasan juta atau bahkan hanya beberapa juta, koperasi sudah bisa beroperasi.
Enam Langkah Teknis Percepatan
Agar koperasi bisa segera operasional, Dr. Prayudi menyarankan enam langkah teknis yang dapat ditempuh:
- Koordinasi dengan Dinas Koperasi di Provinsi/Kabupaten
Komunikasi dengan dinas penting agar data koperasi jelas dan dukungan teknis bisa segera diberikan. - Cek Jumlah Anggota Koperasi
Koperasi tidak bisa berjalan dengan 20 anggota saja. Minimal 50 hingga 100 anggota harus terlibat agar usaha punya pasar internal. - Kawal Registrasi SIM KOPDES
Pastikan koperasi benar-benar mendaftar dan mengisi data secara lengkap. Inilah indikator utama yang dipantau pusat. - Bangun Jaringan dengan Bulog dan Pertamina
Dua mitra utama ini adalah kunci akses untuk usaha beras dan LPG. Hubungan langsung dengan personel Bulog dan Pertamina mempercepat distribusi barang ke koperasi. - Susun Rencana Bisnis
Rencana sederhana tetapi jelas. Apa unit usaha, siapa pemasok, siapa pembeli, berapa margin, bagaimana alur distribusi. - Kawal Akses Pembiayaan
Setelah rencana bisnis ada, ajukan ke perbankan atau Himbara. Pendampingan sangat penting agar proposal tidak berhenti di atas kertas.
Enam langkah ini bisa dijadikan panduan praktis oleh TPP maupun pengurus koperasi agar proses percepatan benar-benar berjalan.
Mengapa Harus Beras dan Gas?
Ada alasan kuat mengapa Dr. Prayudi menekankan dua usaha ini sebagai titik awal:
- Kebutuhan dasar rumah tangga – beras dan gas adalah konsumsi harian yang pasti dibutuhkan semua anggota koperasi.
- Pasar sudah ada – koperasi tidak perlu repot mencari konsumen. Anggota koperasi otomatis menjadi pembeli utama.
- Risiko rendah – tidak perlu teknologi rumit atau gudang besar. Perputaran barang cepat, sehingga risiko kerugian kecil.
- Dukungan pemerintah – Bulog dan Pertamina memiliki mandat untuk mendukung distribusi ke masyarakat melalui koperasi.
Dengan memulai dari kebutuhan dasar, koperasi langsung punya “nafas” untuk bergerak, sekaligus membangun kepercayaan anggota bahwa koperasi memang bermanfaat.
Tantangan di Lapangan
Namun, jalan menuju operasionalisasi koperasi tidak bebas hambatan. Ada beberapa tantangan nyata:
- Kurangnya SDM Pengelola
Banyak koperasi masih kekurangan pengurus yang paham manajemen bisnis. - Partisipasi Anggota
Koperasi sering hanya dikelola segelintir orang, sementara anggota pasif. Padahal, kekuatan koperasi ada pada partisipasi kolektif. - Akses Modal
Meskipun peluang pinjaman ada, koperasi sering kesulitan menyiapkan proposal bisnis yang meyakinkan bank. - Kultur Menunggu Bantuan
Sebagian desa masih terjebak mentalitas menunggu bantuan pemerintah. Padahal koperasi adalah wadah kemandirian. - Kapasitas Digital
SIM KOPDES sudah tersedia, tetapi tidak semua pengurus koperasi paham cara menggunakannya.
Menghadapi tantangan ini, pendampingan menjadi kunci. Koperasi tidak bisa dibiarkan sendiri.
Peran Vital Tenaga Pendamping Profesional (TPP)
Dalam konteks ini, TPP menjadi ujung tombak. Ada tiga hal yang bisa dilakukan TPP:
- Menjadi Fasilitator
Membantu koperasi mendaftarkan diri di SIM KOPDES, menyiapkan data anggota, dan menyusun rencana bisnis. - Membangun Kepercayaan Anggota
Sosialisasi koperasi harus dilakukan dengan pendekatan kultural. TPP bisa menjadi jembatan komunikasi antara pengurus dan anggota. - Menjadi Jembatan dengan Mitra
Hubungan dengan Bulog, Pertamina, dan bank tidak selalu mudah. TPP bisa membantu membuka pintu komunikasi dan menjelaskan prosedur.
Dengan peran ini, TPP tidak hanya mendampingi administratif, tetapi benar-benar ikut menggerakkan roda ekonomi koperasi.
Digitalisasi sebagai Masa Depan
Dr. Prayudi juga menekankan pentingnya digitalisasi koperasi. Melalui SIM KOPDES, data koperasi tercatat, unit usaha terpantau, dan transaksi bisa diaudit.
Ke depan, digitalisasi juga akan membuka peluang pemasaran produk desa secara online, akses pembiayaan yang lebih mudah, serta integrasi dengan platform perdagangan nasional. Dengan kata lain, koperasi bukan hanya menjadi agen distribusi beras atau gas, tetapi juga pemain ekonomi digital.
Penutup: Bergerak dari yang Sederhana
Paparan Dr. Prayudi Samsuri menegaskan satu hal penting: koperasi harus segera bergerak, tidak boleh menunggu sempurna. Mulailah dari yang sederhana—beras dan gas—lalu kembangkan ke usaha lain sesuai potensi lokal.
Dengan enam langkah teknis, dukungan digitalisasi, dan peran aktif TPP, koperasi desa bisa menjadi motor ekonomi yang nyata.
Koperasi Merah Putih bukan hanya simbol, melainkan jalan menuju kemandirian ekonomi desa. Dari desa, untuk desa, demi Indonesia yang lebih sejahtera.

















