Menu

Mode Gelap
Terima Audiensi Bupati Tana Toraja, Wamendes Ariza Minta Pemkab Sukseskan Program MBG

OPINI · 15 Nov 2025 WIB

TNI AD Beternak Ayam: Ketahanan Pangan Model Baru atau Sinyal Darurat?


					TNI AD Beternak Ayam: Ketahanan Pangan Model Baru atau Sinyal Darurat? Perbesar

Beberapa bulan terakhir, publik dikejutkan oleh kabar bahwa prajurit Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) mulai mengelola peternakan ayam petelur. Di berbagai daerah, dari pulau Jawa hingga Sumatra, muncul kandang-kandang baru yang dikelola oleh satuan TNI. Perintah ini bukan sekadar inisiatif lokal; ia datang langsung dari pucuk pimpinan TNI AD.

Langkah ini disebut sebagai bagian dari program pemenuhan kebutuhan pangan MBG (Makan Bergizi Gratis), yang menjadi salah satu agenda besar pemerintahan saat ini. Program ini menuntut pasokan protein hewani dalam jumlah masif dan terdistribusi secara teratur ke seluruh daerah. Kebutuhan telur ayam saja diperkirakan menembus jutaan butir per hari jika program berjalan penuh. Tidak mengherankan jika negara mulai mencari “mesin produksi” tambahan di luar peternak rakyat.

Di sinilah TNI AD masuk. Dengan struktur komando yang rapi, kedisiplinan teruji, serta lahan-lahan yang tersebar luas, TNI dianggap mampu menyediakan suplai pangan cepat dan stabil. Pertanyaannya, apakah ini solusi jangka panjang atau hanya reaksi darurat terhadap kebutuhan program MBG?

Fokus pada Ayam Petelur: Efektivitas Militer vs. Ekosistem Lokal

Ada alasan praktis di balik pilihan ini. Ayam petelur relatif mudah dipelihara, siklus produksinya cepat, dan hasilnya (telur) merupakan sumber protein murah yang dapat disalurkan langsung ke sekolah-sekolah dan kelompok warga penerima bantuan.

Selain itu, model kandang baterai atau closed house lebih mudah dikelola oleh personel yang bekerja dengan sistem shift. Dari perspektif teknis, ini sangat efektif.

Namun, di sisi lain, langkah ini menimbulkan diskusi panas:

  • Apakah urusan peternakan harus ditangani militer? Bukankah sudah ada Kementerian Pertanian, koperasi, BUMDes, dan peternak rakyat?
  • Apakah inisiatif ini akan mematikan usaha ayam rakyat yang selama ini bertarung dengan harga pakan mahal dan fluktuasi pasar?

Resiko dan Realitas: Ketahanan Pangan dan Peran Rakyat Desa

Kita perlu jujur: Indonesia masih sangat rentan terhadap krisis pangan. Produksi telur nasional sering tidak stabil, harga pakan bergantung impor, dan distribusi masih kacau. Pemerintah ingin memastikan pasokan protein MBG tidak terganggu, itulah mengapa militer dipanggil.

Tetapi, ada risiko sosial yang tidak boleh diabaikan. Ketika pemerintah mulai bergantung pada TNI sebagai produsen pangan, posisi petani dan peternak rakyat bisa semakin terpinggirkan. Ini menggeser ekosistem desa dan rantai ekonomi lokal yang sudah bertahun-tahun bertumpu pada peternakan rakyat.

Keterlibatan TNI AD dalam beternak ayam semestinya diposisikan sebagai opsi darurat, bukan model permanen. Jika tidak, kita berisiko mengulang sejarah di mana intervensi negara yang terlalu dalam di sektor produksi justru menyingkirkan pasar rakyat.

Peluang Kolaborasi untuk Ekonomi Desa

Di balik kontroversi ini, sebenarnya ada peluang besar jika dikelola dengan benar. TNI AD memiliki aset (lahan, tenaga, disiplin), sementara desa, BUMDes, dan koperasi memiliki jaringan sosial, pengalaman beternak, dan pemahaman lokal.

Bayangkan jika terjalin kolaborasi:

  • Koperasi Desa/BUMDes menjadi pengelola inti produksi dan distribusi.
  • Peternak Rakyat menjadi pemasok bibit, pakan lokal, dan tenaga kerja.
  • TNI AD menyediakan fasilitasi lahan, sarana keamanan, dan logistik.
  • Kementerian Pertanian memberi dukungan teknologi, vaksin, dan supervisi.

Model ini tidak hanya memenuhi kebutuhan telur untuk MBG, tetapi juga menghidupkan ekonomi desa, melibatkan peternak rakyat, dan memastikan TNI tidak terseret terlalu jauh ke wilayah sektor sipil. Kolaborasi semacam ini yang harus didorong, alih-alih citra “pengambilalihan” peran peternak.

Kesimpulan: Mengembalikan Desa sebagai Pusat Produksi Pangan

Agenda besar pemerintah selama ini adalah menjadikan desa sebagai pusat ekonomi. Bila program MBG berjalan tanpa melibatkan desa, itu adalah langkah mundur. Momentum keterlibatan TNI AD beternak ayam seharusnya menjadi alarm, sekaligus peluang untuk mendesain ulang peran desa dalam pangan nasional.

Pertanyaannya bukan lagi, “bolehkah TNI beternak ayam?” tetapi “bagaimana menjadikan langkah ini bagian dari ekosistem pangan nasional yang sehat, adil, dan melibatkan rakyat desa?”

Jika TNI AD hanya menjadi pendamping, katalis, dan penjaga pasokan awal, maka program ini dapat menjadi model baru ketahanan pangan yang sukses. Tetapi jika TNI menjadi pemain utama jangka panjang, kita berisiko mengulang sejarah di mana rakyat hanya menjadi penonton. Pilihan itu kini ada di meja pemerintah, dan desa harus bersuara.

 

 

 

Artikel ini telah dibaca 375 kali

Baca Lainnya

Koperasi Merah Putih: Ujian Strategis Menteri Koperasi dalam Membaca DNA Desa dan Kelurahan

24 Maret 2026 - 11:22 WIB

Truk Diserahkan ke KOPDES atau Ke Desa, salah Paham Bisa Bahaya

23 Maret 2026 - 18:58 WIB

STOP BA Tanpa Pengalaman: Saatnya Ketua KDMP Berprestasi Mengisi Peran Business Analyst

18 Januari 2026 - 10:30 WIB

Koperasi Sekunder Merah Putih Menjawab Kegaduhan Koperasi Desa  dan Dana Desa

26 Desember 2025 - 07:36 WIB

Asta Cita Dipahami Presiden, Dirusak Para Pembantunya, Desa Jadi Korban Salah Tafsir Kebijakan

22 Desember 2025 - 21:38 WIB

ilustrasi

Inpres Koperasi Desa Merah Putih: Ujian Negara Apakah Menghormati Desa ?

13 Desember 2025 - 16:05 WIB

Trending di OPINI