Momentum Besar: Dari Desa, Untuk Indonesia
Indonesia tengah memasuki babak baru pembangunan desa. Bukan hanya soal infrastruktur fisik, tetapi juga kemandirian ekonomi berbasis komunitas. Pada 24 Agustus 2025, Menteri Koperasi dan UKM Budi Arie Setiadi melepas Tim Ekspedisi Patriot dengan misi khusus: melakukan riset dan pemetaan potensi ekonomi di kawasan transmigrasi.
Pelepasan tim ini bukanlah peristiwa biasa. Ia menandai kesungguhan negara bahwa program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) yang sedang digulirkan harus berpijak pada data riil lapangan, bukan asumsi belaka.
Ekspedisi Patriot: Misi Riset Jalan untuk Asta Cita
Ekspedisi Patriot dibentuk untuk menindaklanjuti visi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, yang menempatkan desa sebagai episentrum pembangunan nasional. Tim ini ditugasi masuk ke wilayah-wilayah transmigrasi, mendengarkan suara warga, mencatat potensi, sekaligus mengidentifikasi masalah yang dihadapi masyarakat.
Dalam arahannya, Menkop Budi Arie menegaskan:
“Program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih akan menjangkau 3.600 desa di kawasan transmigrasi. KDMP adalah alat perjuangan ekonomi desa, bukan sekadar lembaga formal.”
Pernyataan ini mengandung dua pesan besar. Pertama, skala program KDMP sangat luas, menyentuh ribuan desa transmigrasi. Kedua, KDMP bukan sekadar administrasi koperasi, melainkan instrumen perjuangan untuk menghadirkan keadilan ekonomi rakyat.
Menkop juga menambahkan:
“Semua Kopdes Merah Putih harus terdata dalam microsite agar dapat mengakses pembiayaan, distribusi, dan layanan digital.”
Pesan ini menegaskan arah digitalisasi koperasi desa: transparan, modern, dan terhubung dengan rantai pasok nasional.
KDMP: Alat Perjuangan Ekonomi Desa
KDMP hadir dengan konsep konkret. Ia dirancang untuk mengelola kebutuhan dasar sekaligus membuka peluang usaha baru di desa. Ada lima unit usaha strategis yang ditetapkan:
- Pangkalan LPG 3 Kg – memastikan distribusi subsidi energi lebih tepat sasaran.
- Gudang Pupuk – memperkuat akses petani terhadap input produksi.
- Toko Sembako – menyediakan kebutuhan pokok dengan harga terjangkau.
- Apotek Desa – menjawab kebutuhan dasar kesehatan.
- Layanan Keuangan Digital – memperkuat akses permodalan dan transaksi digital.
Semua unit ini digerakkan dengan semangat gotong royong, sehingga hasilnya kembali ke masyarakat. Dengan target ±3.600 desa transmigrasi, KDMP berambisi melahirkan jaringan koperasi modern terbesar dalam sejarah Indonesia.
Ekspedisi & KDMP: Diagnosa dan Terapi
Hubungan Ekspedisi Patriot dengan KDMP ibarat diagnosa dan terapi. Ekspedisi memetakan potensi dan masalah, sementara KDMP hadir sebagai solusi melalui gerakan koperasi.
- Tanpa riset, KDMP rawan salah arah.
- Tanpa koperasi, riset hanya jadi arsip.
Karena itu, keterhubungan keduanya menjadi kunci agar transmigrasi benar-benar tumbuh sebagai lokomotif ekonomi rakyat.
eXpeDESA de Java+: Gerakan Rakyat yang Melengkapi
Sejalan dengan gerakan negara, rakyat juga bergerak lewat eXpeDESA de Java+. Ekspedisi ini berlangsung 11 Agustus hingga akhir Agustus 2025, dipimpin langsung oleh Suryokoco Suryoputro, Ketua RPDN sekaligus Ketua KODE Indonesia.
Rutenya membentang dari Jawa Tengah, Jawa Timur, Madura, hingga Jawa Barat. Tim eXpeDESA turun langsung ke desa, melihat KDMP percontohan, berbincang dengan pengurus koperasi, dan merekam suara warga.
Perbedaan perannya jelas:
- Ekspedisi Patriot → mandat negara, berbasis kebijakan resmi.
- eXpeDESA → inisiatif rakyat, berbasis narasi dan pengalaman lapangan.
Namun keduanya saling melengkapi. Patriot memberi data teknis, eXpeDESA memberi cerita kemanusiaan.
Titik Temu: Negara dan Rakyat Bersama Desa
Pelepasan Ekspedisi Patriot dan perjalanan eXpeDESA de Java+ memperlihatkan dua jalur sejajar: negara lewat kebijakan, rakyat lewat inisiatif komunitas.
Keduanya bertemu dalam satu cita-cita: desa sejahtera, ekonomi rakyat berdaulat.
Menkop Budi Arie menegaskan: “KDMP adalah alat perjuangan ekonomi desa.”
Sementara Suryokoco Suryoputro lewat eXpeDESA membuktikan: perjuangan itu sudah dimulai dari bawah, dari desa ke desa.
Ketika gerakan negara bertemu dengan gerakan rakyat, lahirlah energi besar. Desa bukan lagi objek pembangunan, tetapi subjek utama kemandirian ekonomi Indonesia.

S. Purwanto, Pegiat desa ini lahir di Kutai Kartanegara. Sempat beberapa tahun di Semarang, Kini tinggal menetap di Sampit. Artikel, Puisi, Cerpen, tentang Pertanian di Gambut, kehidupan transmigrasi, BUMdes, mengalir lewat@KompasianaDesa.Ia bangkit dan mulai menulis dari pekatnya Belantara Gambut-yang menyimpan harapan dan kisah pejuang ekonomi keluarga yang kerap luput dari sorotan. Sebuah Novella, Pelita di Belantara Gambut salah satu suaranya bagi mereka yang hidup di pinggiran, namun menyala dalam diam
















