Tahun 2025 seharusnya menjadi momentum kebangkitan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Anggaran digelontorkan, struktur dibangun, dan peran Business Analyst (BA) diperkenalkan sebagai “otak bisnis” koperasi. Namun di banyak desa, harapan itu justru berubah menjadi kegelisahan. Koperasi bertanya: mengapa yang datang menganalisis usaha kami adalah orang yang belum pernah hidup dari koperasi?
Pertanyaan itu tidak lahir dari sikap anti-profesionalisme. Ia muncul dari pengalaman konkret: BA yang rapi di laporan, lancar presentasi, tetapi gagap saat berhadapan dengan konflik anggota, RAT yang tegang, atau unit usaha yang macet karena masalah kepercayaan. Dari sinilah kita harus berani berkata jujur: BA tanpa pengalaman koperasi adalah resep kegagalan yang terlalu instan.
BA Instan dan Masalah yang Terlalu Nyata
Di atas kertas, peran BA terdengar ideal: menganalisis potensi, membaca risiko, memberi rekomendasi usaha. Namun di lapangan, koperasi bukan sekadar entitas bisnis. Ia adalah organisasi sosial-ekonomi dengan sejarah, emosi, dan relasi kuasa di dalamnya.
Banyak BA datang membawa logika pasar, tetapi lupa satu hal mendasar: koperasi hidup dari partisipasi anggota. Ketika rekomendasi usaha disusun tanpa memahami dinamika keanggotaan, hasilnya bukan pertumbuhan, melainkan resistensi. Koperasi dipaksa “siap bisnis” sebelum siap sebagai organisasi. Inilah kegagalan desain, bukan sekadar kegagalan individu.
Ketua KDMP Berprestasi: Pengetahuan yang Selama Ini Diabaikan
Ironisnya, di saat negara mencari BA dari luar ekosistem koperasi, justru pengetahuan paling berharga berada di dalamnya: Ketua KDMP berprestasi.
Mereka bukan teoritikus. Mereka adalah orang-orang yang:
- membangun koperasi dari ketidakpercayaan anggota,
- menyeimbangkan idealisme koperasi dan kebutuhan ekonomi,
- menghadapi kegagalan usaha tanpa bisa “lepas tangan”,
- dan tetap bertahan ketika program datang silih berganti.
Pengalaman ini tidak bisa dipelajari lewat pelatihan singkat. Ia lahir dari proses panjang, dari salah langkah, dari konflik, dari keputusan sulit. Dalam konteks ini, Ketua KDMP berprestasi sejatinya adalah Business Analyst alami—yang selama ini tidak pernah diakui sebagai sumber pengetahuan kebijakan.
Negara Bisa Lebih Hemat, Koperasi Bisa Lebih Kuat
Mengangkat Ketua KDMP berprestasi menjadi BA bukan hanya soal relevansi, tapi juga soal efisiensi. Negara tidak perlu membayar mahal untuk analisis yang jauh dari realitas. Tidak perlu laporan tebal yang jarang dibaca. Yang dibutuhkan koperasi adalah pendamping yang paham konteks dan dipercaya.
BA dari kalangan koperasi berprestasi bekerja dengan bahasa yang sama dengan pengurus dan anggota. Mereka tidak menggurui, karena pernah berada di posisi yang sama. Dampaknya lebih dalam, karena berbasis pengalaman nyata. Anggaran negara lebih hemat, manfaatnya justru lebih terasa.
Tetapi Harus Tegas: Seleksi dan Aturan Tidak Boleh Lunak
Gagasan ini tidak boleh dijalankan tanpa pagar. Mengangkat Ketua KDMP menjadi BA tanpa aturan ketat justru membuka konflik kepentingan baru.
Karena itu, prinsipnya harus jelas:
- berbasis prestasi nyata, bukan kedekatan,
- tidak mendampingi koperasi sendiri,
- transparan dan bisa diuji secara terbuka,
- berani mengatakan “usaha ini tidak layak”, meski bertentangan dengan target proyek.
Idealnya, BA berasal dari ketua purna tugas, atau ketua aktif dengan pembagian peran dan pengawasan yang tegas. Tanpa desain ini, BA hanya akan menjadi jalur karier elite baru—bukan alat pembelajaran koperasi.
Dari Proyek ke Gerakan: Makna Koperasinisasi
Mengangkat BA dari Ketua KDMP berprestasi adalah langkah menuju koperasinisasi kebijakan. Negara tidak lagi sekadar menurunkan desain dari atas, tetapi belajar dari praktik terbaik yang tumbuh dari bawah.
Ini mengubah arah:
- dari proyek ke gerakan,
- dari instruksi ke pembelajaran,
- dari target administratif ke keberlanjutan usaha.
Koperasi berhenti menjadi objek, dan mulai menjadi subjek kebijakan.
Penutup: Pelajaran Pahit 2025
Tahun 2025 memberi pelajaran mahal: koperasi tidak bisa dibangun dengan pendekatan instan. BA tanpa pengalaman koperasi hanya mempercepat kekecewaan.
Jika negara sungguh ingin koperasi desa maju, maka pilihannya jelas:
hentikan BA tanpa rekam jejak, buka ruang bagi Ketua KDMP berprestasi, dan bangun sistem seleksi yang ketat serta adil.
Karena koperasi tidak tumbuh dari teori cepat saji,
melainkan dari pengalaman panjang, kegagalan jujur, dan keberanian belajar bersama.
Dan jika BA adalah otak bisnis koperasi,
sudah waktunya ia lahir dari tubuh koperasi itu sendiri.















