Ada hal menarik saat Musyawarah Desa Percepatan Pembangunan Fisik Gerai Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Suasana coba serius, tapi pertanyaannya bikin semua orang mikir keras sambil senyum kecut:
“KDMP ini nanti arahnya mau ke mana? Beneran jalan atau cuma lewat?”
Maklum, program ini sifatnya top down. Di desa sering muncul istilah halus:
“Program pusat mah, tinggal nurut wae.”
Ibaratnya desa menjadi seperti anak kecil yang menunggu instruksi: “Kalau belum ada surat dari atas, jangan bergerak dulu ya.”
Waktu Presiden bilang semua desa harus punya KDMP, langsung keluar Inpres 9/2025.
Koperasi pun terbentuk seperti pesanan cepat saji:
Klik… jadi 80.000 KDKMP.
Tapi setelah terbentuk, banyak pengurus KDMP saling pandang, seolah bertanya:
“Terus… apa langkah pertama kita?”
Belum sempat menjawab, pusat turun lagi PMK 49/2025 dan Permendes 10/2025.
Isinya mendorong KDMP untuk minjem ke Himbara, dengan jaminan Dana Desa 30% kalau terjadi gagal bayar.
Warga desa mencoba menganalisis dengan nada halus tapi lucu:
“Wah… koperasinya baru lahir sudah ditawarkan kredit. Luar biasa perhatian pemerintah.”
Masalahnya, banyak KDMP bingung cara memulai pinjaman tersebut. Seperti orang baru belajar naik sepeda, tapi langsung diminta ikut balapan.
Karena skema ini tidak berjalan lancar, pusat pun turun tangan lagi:
Muncullah Inpres 17/2025.
Skemanya berubah total:
- Debitur bukan lagi KDMP, tapi PT Agrinas Pangan Nusantara.
- Pembangunan fisik dibantu oleh TNI.
Di balik keseriusan itu, ada rasa lega dari pengurus KDMP:
“Alhamdulillah, bagian bangun-membangun bukan kita yang urus. Kita tinggal menunggu jadinya saja.”
Namun muncul pertanyaan sopan tapi menggelitik:
“Kalau gerainya sudah berdiri, apakah nanti akan ada Inpres baru untuk percepatan operasionalnya?”
Soalnya ritmenya memang seperti itu:
Ada masalah → keluar Inpres.
Ada kendala → keluar Inpres baru.
Ada perubahan → revisi Inpres.
Akhirnya warga desa memberi kesimpulan yang sangat bijak dan sedikit humoris:
“Program KDMP ini bagus, besar, dan penuh niat baik. Tapi semoga tidak terlalu bergantung pada Inpres, supaya pengurus di desa tidak menjadi penunggu setia kebijakan yang turun dari langit.”
Karena koperasi yang sehat itu biasanya bergerak dari bawah, dari kesadaran, dari kegelisahan, dan dari kebutuhan.
Bukan hanya dari… keputusan pusat.

Pegiat Desa dan Taman Bacaan Masyarakat
















