Koperasi bukanlah konsep baru. Dari peternakan di India, komunitas agraris di Israel, hingga pembangunan desa di Korea Selatan, koperasi telah terbukti sebagai alat transformasi sosial-ekonomi yang efektif. Kini, Indonesia mengambil langkah besar dengan meluncurkan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) sebagai program nasional yang diinisiasi langsung oleh Presiden Prabowo Subianto. Program ini bukan sekadar inovasi lokal, melainkan kloning konseptual dari koperasi-koperasi paling sukses di dunia, dengan penyesuaian konteks Indonesia.
Artikel ini menyoroti bagaimana KDMP adalah replikasi (cloning) dari pola sukses global, menempatkan Indonesia dalam jalur sejarah yang strategis dan terbukti untuk memperkuat ekonomi desa dan mewujudkan kemandirian nasional.
Inspirasi Global: Studi Kasus Koperasi Sukses Dunia
- India – AMUL dan Revolusi Putih
India menghadapi krisis pangan dan gizi di awal 1960-an. Sebagai solusi, Perdana Menteri Lal Bahadur Shastri bersama teknokrat Dr. Verghese Kurien meluncurkan program koperasi susu di bawah merek AMUL. Struktur koperasi ini berbasis desa, dengan rantai pasok terintegrasi dari peternak ke konsumen, didukung penuh oleh negara.
Hasilnya? India berubah dari pengimpor susu menjadi produsen nomor satu dunia. AMUL kini menjadi simbol koperasi rakyat yang unggul secara ekonomi dan sosial.
- Israel – Kibbutz dan Moshav
Di awal kemerdekaannya, Perdana Menteri David Ben-Gurion membangun negara dengan koperasi. Kibbutz (komunitas kolektif) dan Moshav (koperasi pertanian keluarga) menjadi tulang punggung ekonomi pedesaan. Pemerintah menyediakan tanah, modal, dan teknologi.
Model ini menjamin ketahanan pangan dan membangun solidaritas nasional. Kini, kibbutz menjadi bagian integral dari lanskap agribisnis modern Israel.
- Korea Selatan – Saemaul Undong
Pada 1970-an, Presiden Park Chung-hee meluncurkan Gerakan Desa Baru (Saemaul Undong) untuk memberdayakan desa melalui koperasi. Setiap desa menerima bantuan bahan baku, tetapi hasil pembangunannya tergantung pada swadaya masyarakat. Pemerintah memberikan insentif besar bagi desa yang berhasil.
Program ini mengurangi kesenjangan desa-kota, meningkatkan pendapatan, dan memperkuat solidaritas nasional.
Koperasi Desa Merah Putih: Replikasi Strategis
KDMP bukan sekadar program baru. Ia adalah kloning strategis dari konsep-konsep di atas, disesuaikan dengan kondisi sosial-ekonomi Indonesia saat ini.
- Inisiatif Presiden: Seperti Korea dan Israel
Program ini dicanangkan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto melalui Instruksi Presiden No. 9 Tahun 2025, dengan target 80.000 koperasi desa aktif. Ini mencerminkan pendekatan “top-down” ala Park Chung-hee dan David Ben-Gurion, di mana negara menjadi arsitek pembangunan rakyat.
Presiden juga menjadikan KDMP sebagai bagian dari Asta Cita: pembangunan dari desa (pemerataan ekonomi) dan kemandirian bangsa (swasembada pangan).
- Struktur Berlapis: Seperti AMUL India
KDMP dirancang dengan sistem koperasi multi-level: dari anggota desa, unit usaha koperasi, hingga jaringan nasional koperasi. Sama seperti AMUL, koperasi ini akan mengelola:
- Pengadaan sembako
- Klinik dan apotek desa
- Cold storage
- Gudang pangan
- Logistik dan layanan usaha lain
Setiap unit koperasi akan mendapat modal awal, pelatihan, dan pendampingan—dijamin oleh kementerian teknis dan Pemda.
- Peran Pemerintah: Seperti di Israel
KDMP tidak diserahkan sepenuhnya ke masyarakat. Pemerintah hadir aktif:
- Kemendagri: fasilitasi APBD & APBDes
- Kementerian Pertanian: penyerapan hasil tani via koperasi
- Kementerian Kesehatan: pembentukan Klinik & Apotek Desa
- Kemenkeu & BUMN: pendanaan hingga Rp 5 miliar per koperasi
Faktor Sukses Kloning KDMP
Berbagai preseden global menunjukkan bahwa koperasi sukses jika memenuhi syarat berikut:
- Inisiatif Negara, Eksekusi Rakyat
KDMP menggunakan skema yang sama: negara menyiapkan infrastruktur, rakyat mengelola. Musyawarah Desa Khusus sebagai basis legitimasi sosial mendekati model “community ownership” ala Saemaul. - Insentif Nyata
Desa yang aktif dalam pembentukan KDMP diberi alokasi insentif dana desa—praktik yang identik dengan penghargaan “village of excellence” di Korea. - Rantai Pasok Singkat dan Harga Stabil
Seperti AMUL dan koperasi pertanian Israel, KDMP akan memangkas rantai pasok. Produk dari petani langsung dikelola koperasi, mengurangi dominasi tengkulak dan menstabilkan harga. - Dukungan Legal dan Digital
Dengan Permenkumham No. 13 Tahun 2025, pengesahan koperasi kini berbasis sistem digital SABH—mempercepat legalitas dan akuntabilitas.
Potensi Dampak Sosial-Ekonomi
Jika berhasil, KDMP akan menciptakan dampak jangka panjang:
- Ketahanan pangan lokal dan nasional
- Peningkatan NTP petani
- Penciptaan lapangan kerja desa
- Penguatan ekosistem UMKM berbasis koperasi
- Pengurangan kemiskinan ekstrem dan urbanisasi
Model ini juga akan menjadikan desa sebagai pusat produksi dan distribusi, bukan sekadar wilayah konsumsi dan migrasi keluar.
Penutup: Kloning dengan Kearifan Lokal
Koperasi Desa Merah Putih adalah kloning yang cerdas, bukan sekadar salin dan tempel. Ia mengadopsi model sukses dunia—AMUL, Kibbutz, Saemaul—tetapi dibalut dengan identitas lokal: gotong royong, musyawarah, dan kebijakan berbasis desa.
Dengan arahan langsung Presiden, dukungan lintas kementerian, dan partisipasi masyarakat desa, KDMP berpotensi menjadi revolusi ekonomi rakyat yang menyaingi keberhasilan koperasi global. Bila dikelola konsisten dan inklusif, Indonesia bisa menjadi studi kasus baru di panggung koperasi dunia.














