Menu

Mode Gelap
Terima Audiensi Bupati Tana Toraja, Wamendes Ariza Minta Pemkab Sukseskan Program MBG

OPINI · 28 Mei 2025 WIB

Koperasi Merah Putih Jangan melupakan Kota dan Kelurahan


					Koperasi Merah Putih Jangan melupakan Kota dan Kelurahan Perbesar

Koperasi telah lama menjadi salah satu pilar ekonomi rakyat yang menjanjikan pemerataan kesejahteraan. Dalam konteks Indonesia yang majemuk dan terbagi dalam struktur wilayah desa dan kelurahan, muncul kebutuhan strategis untuk menyinergikan dua entitas koperasi: koperasi desa dan koperasi kelurahan. Keduanya memiliki kekuatan berbeda namun saling melengkapi, dan bila dijalankan secara kolaboratif, dapat membentuk ekosistem ekonomi kolektif yang tangguh dan inklusif.

Potensi Sinergi: Hulu dan Hilir Ekonomi Rakyat
Koperasi desa umumnya bergerak dalam sektor produksi, baik pertanian, peternakan, perikanan, maupun kerajinan lokal. Sebaliknya, koperasi kelurahan lebih banyak berperan dalam sektor distribusi, konsumsi, dan layanan keuangan perkotaan.

Ketika koperasi desa dan kelurahan bersinergi, mereka menciptakan rantai nilai yang efisien: dari proses produksi di pedesaan hingga pemasaran dan konsumsi di kawasan urban. Produk pertanian desa dapat diserap langsung oleh koperasi kelurahan yang menjalankan gerai sembako, warung sehat, atau pasar rakyat. Model ini tidak hanya memperpendek rantai pasok, tetapi juga menekan harga di konsumen dan meningkatkan harga jual di produsen.

Semangat Presiden: Membangun Koperasi Merah Putih sebagai Gerakan Nasional
Presiden Prabowo Subianto telah menegaskan komitmennya untuk menjadikan koperasi sebagai tulang punggung ekonomi kerakyatan. Melalui gagasan Koperasi Merah Putih, beliau menargetkan pembentukan lebih dari 80.000 koperasi di seluruh desa dan kelurahan di Indonesia. Koperasi ini bukan sekadar unit usaha, tetapi kendaraan untuk mewujudkan kedaulatan pangan, energi, dan kesejahteraan berbasis komunitas.

Presiden meyakini bahwa koperasi yang kuat akan menciptakan rakyat yang mandiri, tidak tergantung pada tengkulak dan spekulan. Dalam berbagai kesempatan, ia menekankan pentingnya membangun koperasi yang profesional, modern, dan memiliki akses terhadap teknologi serta pasar. Semangat ini memberi inspirasi besar bagi sinergi koperasi desa dan kelurahan untuk membangun ekosistem ekonomi rakyat yang terintegrasi.

Namun realitanya, hingga saat ini hampir seluruh perhatian kementerian dan lembaga pemerintah masih terpusat pada pendirian koperasi desa. Hampir tidak terlihat satu pun gerakan terstruktur yang secara eksplisit mendorong pembentukan koperasi kelurahan. Padahal, kelurahan sebagai unit urban memiliki potensi distribusi, konsumsi, dan logistik yang luar biasa untuk menopang koperasi desa dalam rantai nilai yang menyeluruh. Kekosongan strategi ini perlu segera dijembatani agar visi koperasi merah putih benar-benar menjangkau seluruh lapisan masyarakat, baik pedesaan maupun perkotaan.

Contoh Sinergi Praktis

Distribusi Pangan: Koperasi desa memproduksi beras organik, telur, dan sayuran, lalu koperasi kelurahan menyalurkannya melalui gerai komunitas di perkotaan.
Produk UMKM: Kerajinan tangan, batik desa, makanan olahan tradisional dapat dijual secara kolektif oleh koperasi kelurahan dengan branding yang lebih baik.
Simpan Pinjam Terintegrasi: Desa fokus pada pembiayaan produksi, kelurahan pada kebutuhan konsumtif harian masyarakat urban. Keduanya bisa saling menopang likuiditas.
Pelatihan dan Talenta: Desa sebagai laboratorium produksi, kelurahan sebagai hub distribusi dan edukasi digitalisasi koperasi.
Kelembagaan dan Platform Kolaboratif
Untuk memperkuat sinergi ini, perlu dibentuk lembaga perantara atau induk koperasi lintas wilayah yang menaungi keduanya. Digitalisasi koperasi dan sistem manajemen berbasis aplikasi juga menjadi jembatan agar data produksi, distribusi, dan permintaan dapat terintegrasi secara real time.

Pemerintah melalui Kementerian Koperasi, Keemendagri serta Kemendesa PDT dapat memfasilitasi forum sinergi koperasi desa-kelurahan secara nasional maupun regional. Hal ini akan membuka peluang investasi bersama dalam bentuk logistik koperasi, cold storage, armada distribusi, hingga marketplace digital koperasi.

Menutup Kesenjangan, Membangun Kedaulatan
“Janganlah kita membangun desa dengan melupakan kota.” Kalimat ini terus terngiang dalam benak saya. Koperasi Merah Putih, sebagaimana disampaikan Presiden Prabowo Subianto, adalah sebuah gerakan nasional. Ia bukan sekadar proyek administratif, melainkan harapan baru bagi ekonomi kerakyatan yang berkeadilan. Namun sayangnya, hingga saat ini hiruk pikuknya masih lebih banyak terfokus pada koperasi desa. Kita belum melihat satu pun gerakan yang menyasar pembentukan koperasi kelurahan secara serius di wilayah-wilayah perkotaan.

Padahal kota memiliki denyut yang berbeda, cepat, rapat, dan penuh tantangan. Harga kebutuhan pokok mahal, akses ke pangan lokal minim, dan banyak keluarga perkotaan hidup tanpa kepastian ekonomi harian. Bukankah ini justru ladang subur bagi koperasi untuk tumbuh? Jangan sampai kita hanya bicara soal desa dan lupa bahwa sebagian besar rakyat Indonesia juga tinggal di kota, di gang-gang sempit, di hunian padat, dengan semangat hidup yang tak kalah tinggi.

Saya teringat pada tahun 2006, saat semangat membangun gerakan desa mulai bergema. Saat itu, kami membawa semboyan: “Membangun Desa – Memperkokoh Kota – Menuju Indonesia Jaya”. Semboyan itu lahir dari keyakinan bahwa Indonesia tak akan jaya jika kota dibiarkan rapuh, dan desa dibiarkan sendiri. Bahwa kekuatan Indonesia ada ketika desa menjadi lumbung dan kota menjadi jembatan. Ketika petani di desa punya pasar yang adil di kelurahan, dan warga kota mendapatkan pangan langsung dari sumbernya.

Kini, semboyan itu perlu kita hidupkan kembali. Bukan untuk romantisme masa lalu, tapi sebagai peringatan: jangan bangun desa dengan cara meninggalkan kota. Mari kita satukan kembali simpul-simpul ekonomi rakyat—dari sawah, tambak, dan kebun di desa, ke dapur, warung, dan gang sempit di kota. Di situlah koperasi merah putih seharusnya berpijak.

Kini, kolaborasi dan sinergi antarwilayah—antara koperasi desa dan koperasi kelurahan—juga menjadi semakin mungkin dan efisien berkat dukungan teknologi komunikasi dan sistem digital. Aplikasi koperasi berbasis daring, e-commerce lokal, hingga sistem keuangan digital memungkinkan transaksi, pelaporan, dan distribusi dilakukan tanpa harus terhalang jarak. Infrastruktur transportasi yang terus dibangun, mulai dari jalan antar desa hingga jaringan logistik perkotaan, juga mempercepat mobilitas barang dan meminimalisir biaya distribusi.

Dengan dukungan ini, koperasi rakyat tidak hanya bisa tumbuh secara organik, tapi juga terkoneksi dalam ekosistem ekonomi yang cerdas dan terhubung. Koperasi kelurahan dapat menjadi outlet distribusi, koperasi desa menjadi basis produksi. Semua bisa menyatu dalam irama teknologi dan logistik baru yang inklusif dan memberdayakan.

Mari kita sadari
Sinergitas koperasi desa dan kelurahan tidak hanya berdampak pada efisiensi ekonomi, tetapi juga merupakan langkah strategis menutup kesenjangan desa-kota. Ketika ekonomi desa mendapat akses pasar dan koperasi kelurahan memiliki akses produk unggulan desa, maka kedaulatan pangan, energi, dan keuangan rakyat menjadi mungkin diwujudkan.

Sudah saatnya koperasi tidak lagi berdiri sendiri-sendiri dalam sekat wilayah administratif, melainkan membentuk jaringan bisnis rakyat yang saling menopang. Inilah jalan menuju ekonomi gotong royong abad 21.

Konten ini telah tayang di desamerdeka.id dengan judul “Koperasi Merah Putih Jangan melupakan Kota dan Kelurahan – Desa Merdeka”, Klik untuk baca: https://desamerdeka.id/koperasi-merah-putih-jangan-melupakan-kota-dan-kelurahan/

Penulis: *Suryokoco Suryoputro*

Artikel ini telah dibaca 78 kali

Baca Lainnya

Koperasi Sekunder Merah Putih Menjawab Kegaduhan Koperasi Desa  dan Dana Desa

26 Desember 2025 - 07:36 WIB

Asta Cita Dipahami Presiden, Dirusak Para Pembantunya, Desa Jadi Korban Salah Tafsir Kebijakan

22 Desember 2025 - 21:38 WIB

ilustrasi

Inpres Koperasi Desa Merah Putih: Ujian Negara Apakah Menghormati Desa ?

13 Desember 2025 - 16:05 WIB

Kementerian Koperasi Salah Tafsir Arahan Presiden: Dari Visi ke Kewajiban Anggota

23 November 2025 - 08:15 WIB

Inpres Datang, Inpres Pergi: Pengurus KDMP Masih Bingung Melangkah

23 November 2025 - 00:26 WIB

Membangun Jaringan Pangan yang Lebih Kuat: Saatnya BUMN dan KDMP Bersinergi

22 November 2025 - 07:31 WIB

Trending di OPINI