Menu

Mode Gelap
Terima Audiensi Bupati Tana Toraja, Wamendes Ariza Minta Pemkab Sukseskan Program MBG

CERPEN · 18 Jun 2025 WIB

Menyalakan Asa dari Tikar Yasinan: Cerita dari Belantara Gambut


					Menyalakan Asa dari Tikar Yasinan: Cerita dari Belantara Gambut Perbesar

Di tanah gambut yang sering dianggap pinggiran oleh peta pembangunan, kehidupan justru menyimpan api yang perlahan menyala. Di Desa Embang Jaya, sebuah komunitas yang berdiri di atas tanah lembab dan kanal-kanal air, harapan itu bermula dari sesuatu yang sangat sederhana—tikar yasinan.

Hari itu langit menggantung mendung. Di antara rumah panggung yang berjejer rapi, satu rumah tampak lebih ramai: rumah Bu Rini. Ia menjadi tuan rumah pengajian ibu-ibu desa. Tidak ada yang menyangka, sore yang biasanya hanya diisi doa dan gorengan itu, menjadi titik awal pergerakan ekonomi desa yang akan dikenang.

Setelah doa penutup, Bu Rini berdiri dan menyampaikan kabar: akan ada musyawarah desa khusus untuk membentuk koperasi. Bukan koperasi biasa, katanya. Ini akan menjadi tulang punggung ekonomi desa, menampung hasil tani, menyediakan pupuk, sembako, bahkan apotek desa.

Semangat langsung menjalar. Esok harinya, nama Koperasi Desa Merah Putih menjadi buah bibir di warung kopi, ladang timun, sampai perahu-perahu kecil yang menyusuri kanal. Para pemuda yang biasanya menganggur mulai melirik peluang jadi pengurus. Harapan tumbuh dari tanah yang selama ini dianggap hanya cocok untuk sawit dan paludikultura.

Tiga hari kemudian, balai desa penuh sesak. Dari kepala desa hingga para kader posyandu hadir. Musyawarah dimulai. BPD dan Kepala Desa menegaskan: koperasi ini bukan tempat cari gaji, tapi ruang pengabdian. Sebanyak 22 orang mendaftar jadi pengurus, tetapi hanya lima yang terpilih—mewakili generasi muda, kelompok tani, ibu-ibu PKK, hingga kader posyandu.

Ketua terpilih, Anton, pemuda Karang Taruna dengan latar pendidikan ekonomi, berdiri tegak meski suara bergetar. “Kami mulai dari nol, tapi dengan semangat seratus.” Koperasi pun mulai dengan simpanan pokok Rp50.000 dan simpanan wajib Rp10.000 per bulan. Modalnya kecil, tetapi mimpi mereka besar.

Bangunan bekas poskesdes dicat ulang. Sebuah papan nama dipasang: Koperasi Desa Merah Putih Embang Jaya. Di depan bangunan itu, Bu Rini dan Pak Slamet berdiri sambil menatap langit yang cerah. “Dulu ini hanya mimpi,” ujar Pak Slamet. “Sekarang, kita tanam harapan di tanah gambut ini.”

Artikel ini telah dibaca 80 kali

badge-check

Writer

Baca Lainnya

Debat di Bawah Pohon Waru

8 Juni 2025 - 19:52 WIB

Dari Lumbung ke Layar Android

8 Juni 2025 - 16:45 WIB

KopDes Merah Putih: Dari Balai Desa ke Pusat Perubahan

30 Mei 2025 - 13:07 WIB

Obrolan Pakde dan Menulis Kisah Pendamping Desa

28 Mei 2025 - 20:34 WIB

Trending di CERPEN