Menu

Mode Gelap
Terima Audiensi Bupati Tana Toraja, Wamendes Ariza Minta Pemkab Sukseskan Program MBG

CERPEN · 28 Mei 2025 WIB

Obrolan Pakde dan Menulis Kisah Pendamping Desa


					Obrolan Pakde dan Menulis Kisah Pendamping Desa Perbesar

ilustrasiLereng Sumbing di musim kemarau menyuguhkan pemandangan yang menenangkan. Langit membentang biru, awan tipis berarak lambat, dan angin sejuk menerpa dedaunan pohon kopi serta pinus yang mengelilingi rumah-rumah kayu para petani. Di antara rumah-rumah itu, sebuah rumah tua dengan teras lebar dan kursi bambu sederhana menjadi tempat perhentian banyak cerita.

Pakde Koco, lelaki paruh baa  berambut putih, duduk di teras rumahnya sore itu, menyesap kopi hitam pahit tanpa gula sambal menikmati nala kretek kesukaanya. Ia mantan aktivis desa yang dulu suaranya tak pernah absen dari rapat warga, yang pernah memimpin barisan kepla desa menuntut hak atas kewenangan desa, dan yang tulisan-tulisannya tentang desa pernah menghiasi media sosial

Sore itu, tiga orang muda datang menyusuri jalan setapak menuju rumah Pakde Koco: Panudi, Itong, dan Indah. Ketiganya adalah pendamping desa, para pejuang senyap yang hidup di antara regulasi pusat dan realitas desa. Mereka datang bukan sekadar bertamu, tapi mencari hikmah dari seorang yang telah kenyang makan garam desa.

“Assalamu’alaikum, Pakde!” sapa Panudi lantang.

Pakde Koco membuka mata dan tersenyum. “Wa’alaikumussalam, lho, kowe bertiga kok tumplek blek tekan kene? Mesti ono sing digagas!”

Mereka tertawa. Itong menyodorkan dua bungkus tape ketan dan kacang rebus. Indah membawa semangkuk kolak pisang yang ia masak sendiri. Mereka duduk di kursi bambu panjang, diapit bunyi jangkrik dan desir angin sore.

“Kami lagi keliling, Pakde. Sekalian silaturahmi. Tapi juga mau curhat, boleh kan?” ucap Indah sambil tersenyum.

“Lha, iki rumahmu kabeh kok. Ora usah izin curhat. Langsung wae,” jawab Pakde sambil menepuk bahu Panudi.

Panudi membuka percakapan. “Pakde, sekarang desa lagi rame dengan program Kopdes Merah Putih. Koperasi Desa. Dari pusat sudah jelas, bahkan regulasi sudah turun. Tapi di lapangan? Ruwet, Pakde.”

Pakde mengangguk pelan. “Ruwet? Ruwet itu ya biasa di desa. Wong ketemu kepala dusun saja kadang butuh tiga kali manggil. Apalagi mau bikin koperasi.”

“Masalahnya, Pakde,” sambung Itong, “masyarakat belum paham konsep koperasi. Dulu banyak yang trauma. Koperasi simpan pinjam yang dulu-dulu malah mangkrak. Sekarang disuruh bikin baru, dengan nama ‘Merah Putih’ segala. Jelas niatnya mulia, tapi di bawah bingung caranya.”

“Lha pemerintah desa juga belum satu suara,” tambah Indah. “Ada yang bilang ini duplikat dari Bumdes. Ada juga yang takut dimintai pertanggungjawaban kalau dana disalurkan ke entitas baru. Kami pendamping malah jadi sasaran bingung semua pihak.”

Pakde Koco menaruh cangkirnya dan menyalakan kretekna lagi. Matanya memandang jauh ke ladang padi yang mulai menguning.

“Dulu,” katanya pelan, “zaman Pak Lurah Kasan, kami juga pernah bikin koperasi. Namanya ‘Tunas Karya’. Anggotanya para petani. Waktu itu belum ada yang ngerti soal RAT, akuntansi, apalagi digitalisasi. Tapi semangatnya ada—gotong royong. Yang penting percaya.”

“Terus kenapa bubar, Pakde?” tanya Itong penasaran.

“Karena semangatnya habis. Bukan cuma dari warga, tapi dari pemerintah desa. Setelah Lurah ganti, koperasi dianggap beban. Tidak disapa, tidak dipedulikan. Lama-lama mati sendiri.”

Mereka terdiam sejenak. Indah menatap langit yang mulai jingga. “Jadi, bagaimana agar Kopdes ini tidak bernasib sama, Pakde?”

Pakde Koco tersenyum. “Mulailah dari niat yang benar. Lalu buat rakyat percaya. Satu hal yang paling penting dalam membangun desa itu: kepercayaan. Kalau rakyat percaya, kamu suruh tanam cabai di halaman pun mereka lakukan.”

Panudi mengangguk. “Masalahnya, membangun kepercayaan itu tidak cepat. Sementara kami dikejar target. Musdes harus selesai minggu ini, akta notaris harus jadi bulan ini, dana cair sebelum bulan depan. Lari terus, Pakde.”

Pakde tertawa kecil. “Lha ya itu masalahnya. Negara ini pengen hasil cepat untuk proses yang lambat. Padahal desa bukan pabrik. Desa itu seperti sawah. Harus dibajak, ditanam, disiram, baru panen. Bukan cetak langsung panen.”

Itong mengangguk dalam. “Kami juga lelah, Pakde. Kadang kami merasa hanya jadi penyambung lidah program. Tidak didengar warga, tidak juga sepenuhnya didukung atasan.”

Pakde menatap tajam ke arah mereka bertiga. “Kalian tahu kenapa saya dulu mau berdiri berjam-jam di tengah hujan demi rapat RT? Karena aku cinta desa ini. Karena aku tahu, kalau aku tidak bersuara, siapa lagi? Kalian pendamping, itu berarti punya dua telinga dan satu hati. Dengarkan rakyat, dan rasakan detak desa.”

Indah tersenyum. “Kalau boleh jujur, kami belajar banyak justru dari percakapan-percakapan kecil. Di warung kopi, di pos ronda, atau seperti sekarang ini.”

“Dan dari kalianlah,” tambah Pakde, “kisah-kisah desa akan terus hidup. Ceritakanlah, tulislah. Jangan cuma jadi laporan ke pusat. Jadikan itu kisah, biar generasi kedepan  tahu, bahwa membangun desa bukan sekadar proyek. Tapi perjuangan batin.”

Panudi mengangguk. “Kami sempat wacana, mau buat jurnal pendamping. Tapi takut tidak ada yang baca.”

“Bikin dulu,” tegas Pakde. “Kalau kamu tulis dengan cinta, pasti ada yang membaca. Kalau kamu tulis dengan jujur, pasti ada yang percaya. Jangan biarkan kisahmu hanya jadi angka di laporan bulanan.”

Angin kembali berhembus. Di kejauhan, suara azan magrib menggema dari surau kampung. Hari mulai turun perlahan.

Pakde berdiri, membetulkan letak kopiahnya. “Ayo salat dulu. Setelah itu kita makan singkong rebus. Masih hangat.”

Mereka bertiga ikut berdiri. Di dalam hati masing-masing, ada rasa baru yang tumbuh. Percakapan singkat di teras kayu ini terasa lebih berharga daripada sekian banyak rapat koordinasi yang mereka hadiri.

Sore itu, di bawah kaki Gunung Sumbing, lahir kembali keyakinan bahwa membangun desa bukan hanya soal program dan dana, tapi soal hati, semangat, dan cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Artikel ini telah dibaca 55 kali

Baca Lainnya

Menyalakan Asa dari Tikar Yasinan: Cerita dari Belantara Gambut

18 Juni 2025 - 11:27 WIB

Debat di Bawah Pohon Waru

8 Juni 2025 - 19:52 WIB

Dari Lumbung ke Layar Android

8 Juni 2025 - 16:45 WIB

KopDes Merah Putih: Dari Balai Desa ke Pusat Perubahan

30 Mei 2025 - 13:07 WIB

Trending di CERPEN